Goa Jepang

LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com – Sejumlah pengunjung berdatangan ke Goa Jepang, Desa Blang Payang, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, Aceh, Senin (3/8/2015). Obyek wisata sejarah ini baru dibuka sekitar dua bulan lalu.

Semilir angin menyibak rambut para pengunjung. Ya, letak gua itu memang diketinggian 100 meter di atas permukaan laut. Masyarakat lokal mengenalnya dengan sebutan Bukit Goa Jepang. Sedangkan Pemerintah Lhokseumawe menamai obyek wisata ini sebagai Taman Ngieng Jioh (Taman Melihat Jauh).

Jika hendak menuju obyek wisata ini, letaknya persis di jalan lintas nasional Medan-Banda Aceh. Ketika berada di Desa Blang Payang, atau Taman Makam Pahlawan Lhokseumawe, silakan berbelok ke kanan. Lalu mendaki bukit kecil itu. Di puncak bukit itulah Goa Jepang berada.

Dari puncak bukit ini, arahkanlah pandangan ke seluruh mata angin. Semua menawarkan keindahan tersendiri sembari menikmati semilir angin.

Jika melihat ke selatan, anda bisa melihat rerimbunan pohon sembari menikmati desiran angin. Jika ke utara, anda bisa menyaksikan laut biru Selat Malaka. Sedangkan jika melihat ke barat, anda bisa melihat kilang PT Arun NGL yang tersohor itu. Lengkap dengan kapal tanker LNG yang bersandar.

Goa Jepang Lhokseumawe

KOMPAS.COM/MASRIADIKilang PT Arun NGL dilihat dari Goa Jepang di Lhokseumawe, Aceh.

Goa itu dibangun 1942. Benteng terakhir Jepang sebelum Sukarno mendeklarasikan Kemerdekaan RI pada 1945. Sayangnya panjang goa ini hanya 100 meter. Jika ingin melihat ke dalam dan kebetulan sedang ramai pengunjung, maka harus sabar antre.

Goa ini tidak terkoneksi dengan goa lainnya di bukit itu. Tampaknya, goa ini semata-mata untuk pertahanan kelompok kecil dari serangan musuh. Bunker yang dibangun Jepang banyak ditemukan di bibir pantai Lhokseumawe. Goa ini konon juga sebagai pengintai musuh yang datang dari laut lepas.

“Jika hari libur Sabtu dan Minggu, pengunjung bisa 100 sampai 200 orang. Pada liburan Idul Fitri lalu tercatat 10.000 pengunjung. Jika hari biasa, jumlahnya hanya puluhan orang saja,” kata Aidil, salah seorang penjaga obyek wisata itu.

Untuk masuk ke obyek wisata itu, pengunjung harus membeli tiket seharga Rp 5.000. Aidil menyebutkan pengunjung dari Medan dan sejumlah kabupaten/kota lainnya kerap singgah di Goa Jepang. “Mungkin karena penasaran bagaimana bentuk goa itu,” sebut Aidil.

Informasi lain menyebutkan, goa itu beberapa kali berubah fungsi. Ketika tahun 1965, goa itu sempat dijadikan tempat eksekusi mereka yang dicap sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ketika konflik Aceh yang melibatkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah RI, goa itu sempat dijadikan tempat penampungan sementara mereka yang diduga terlibat GAM. Setelah ditampung di goa itu, mereka yang bersalah akan menjalani proses hukum di Polres Lhokseumawe. Kini, goa itu menjadi lokasi wisata.

“Menikmati keindahan alam dari ketinggian itu sangat menyenangkan. Di Lhokseumawe dan Aceh Utara ya hanya di sini kita bisa menikmati keindahan itu,” ujar Saiful Nurdin, salah seorang pengunjung.

Selain itu, sambung Saiful, bisa juga menyaksikan bagaimana Jepang membuat benteng pertahanannya. “Ini memudahkan bercerita sejarah Jepang menjajah Indonesia untuk anak-anak,” pungkas Saiful.

Nah, jika ingin menikmati keindahan alam lepas dan berwisata sejarah silakan berkunjung ke Goa Jepang Lhokseumawe.

 

No Comment

Comments are closed.